ASRI TALK

Njajah Deso Milangkori

Melintas masa ke jaman SMA Doeloe


Fajar krebet yg satu ini memang sering membuat ulah. Keahliannya dalam mengeles orang lain menjadi point plus yg jarang dimiliki kawan-kawannya. Coba tengok ketika ia menjawab teguran guru matematika karena tertangkap basah terlambat dan memintanya menunjukkan surat keterangan terlambat dari guru BP “ kemarin khan sudah pak” jawabnya enteng yg sekaligus menunjukkan bahwa dia sering datang terlambat. Guru matematika yg wajahnya mirip bintang film serial terkenal pada saat itu hanya dibuatnya tersenyum-senyum…

Krapyak merupakan tempat paling favorit untuk berkumpul pada jaman2 sma dulu. Terutama anak2 bio 1. tempat tersebut bukanlah taman atau mall melainkan rumah salah satu teman kami Eko namanya. Salah satu anggota geng ‘perusuh’ yg paling pendiam namun baik hati. Dengan ciri khas badan besar diatas rata-rata anak sma – membuatnya nampak mencolok diantara geng perusuh lainya yg rata-rata ceking ‘kurang gizi’. Rumahnya sering dijadikan markas berkumpul setelah pulang sekolah atau check point ketika geng kampungan tersebut akan mengadakan aksi. Ketika yg lain suka dengan motor bebek protholan tanpa sepion, eko dengan gagahnya suka mengendarai bekicot italy warna cream andalanya yg tentu ngga bisa di protholin tinggal rangka doang seperti yg dilakukan kawan2nya dengan motor bebeknya. Atau barangkali itu adalah salah satu siasat eko agar kawan-kawanya yg ceking tidak meminjam vespanya saking beratnya tuh motor  Entah benar atau tidak tuduhan tersebut hingga 20 tahun berikutnya belum dapat konfirmasi dari sang empunya bekicot tsb.

Stadion sriwedari menjadi tempat bersejarah bagi geng ‘ndeso’ tsb ketika mereka berkesempatan nonton konser god bless. Tentu saja ide nonton konser tsb muncul dari anggota geng berperawakn ceking tinggi dengan rambut sisir ke belakang. Ini wajar karena hanya kawan ini yg hapal lagu-lagu grup musik sejagat yg lagi ngetrend pada waktu itu, dari grup londo hingga grup local macam god bless tsb. Mungkin karena kegemarannya mendengarkan radio-radio FM maka kemampuannya menghapal nama-nama personnel grup cadas hingga keroncong di atas rata-rata. Siapakah dia? Pasti kalian semua tahu. Ndak usah disebut disini, yg jelas kawan ini paling suka menyibakkan rambutnya ke belakang ha ha ha ha…lagu semut hitam, menjilat matahari, panggung sandiwara hapal diluar kepala mengalahkan pelajaran sejarah-nya Bu Wim 

Upacara hari senin juga menjadi hari yg menyebalkan sekaligus menyenangkan. Menyebalkan karena harus berjajar, berderet dan berbaris berpanas panas hanya utk mendengarkan pidato kepsek atau inspektur upacara. Menyenangkan karena setiap hari senin mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia raya yg sudah dimodifikasi ala gun n roses dibait terakhir. Menyenangkan karena menjadi saksi bagi tertangkapnya siswa-siswa yg tidak membawa topi pada saat upacara. Layaknya kriminil mereka disendirikan dalam satu barisan. Bagi yg kelupaan membawa seragam lengkap pada saat upacara maka plafon laboratorium di gedung belakang menjadi tempat persembunyian paling favorit. Ini dilakukan untuk menghindari razia guru2. mudah-mudahan kita semua dihindarkan dari perbuatan yg hina dina ini 

Dan candi cetho – menjadi saksi bisu tragedy memilukan menimpa geng ndeso tersebut. Saat itu hari kamis, kebetulan pas libur sekolah. Salah satu teman mengadakan pesta ultah. Karuan saja acara tersebut dijadikan ajang ngumpul geng tsb. Segala cara dan taktik disiapkan agar semua kawanan dapat ngumpul di krapyak dan berangkat bareng-bareng ke tempat acara ultah. Geng yg biasa naik motor berboncengan kali ini mempunyai siasat lain. Agar nampak seperti orang kaya maka salah seoarang membujuk Eko agar mau membawa mobilnya dan nanti selepas acara rame-rame ke lereng gunung lawu sebelah utara utk melihat candi. Entah ilmu apa yg dipakai pada saat itu, eko nurut saja. Dia setuju membawa colt stationnya utk dating ke acara ultah tsb. Colt tua tersebut dipenuhi kurang lebih 14 orang.

Kira-kira tengah hari acara ultah dah selesai, maka tiba saatnya bersenang-senang. Dengan wajah yg bersinar-sinar anggota kawanan tersebut bernyanyi-nyanyi dan saling ledek di dalam mobil. Untuk menuju ke candi cetho kita sengaja melewati rumah kawan-kawan sekelas, dan anehnya setiap kali lewat di depan rumah teman-teman bukanya mampir namun dari dalam mobil kawanan tersebut berteriak-teriak memanggil nama kawan tsb secara bersama-sama. Ketika tiba disebuah tanjakan dengan kemiringan diatas 30o mobil tidak kuat menanjak. Beberapa anggota kawanan turun dari mobil dan mendorongnya. Saat itu tidak ada yg berpikiran kenapa mobil tidak kuat nanjak? Yg ada dibenak mereka adalah happy dan senang-senang. Tidak sadar bahaya mengancam mereka. Menjelang sore, kira-kira jam 3 akhirnya dengan susah payah rombongan kawanan tiba di pelataran candi cetho. Suasana saat itu sedikit berkabut, udara dingin menerpa kulit mereka. Suasanan magis terasa sore itu. Kawanan yg tak pernah berkunjung ke candi serasa menemukan alam baru. Mereka secara berombongan memasuki kawasan candi. Di pelataran pertama mereka menemukan symbol yoni, disebelah kanan dan kiri terdapat bangunan menyerupai gubuk-gubuk utk ibadah. Bau kembang dan menyan semerbak dibawa hembusan udara dingin gunung lawu.

Setelah puas mengunjungi bagian dalam candi, kami keluar dan melihat bagian luar candi. Disebelah kiri candi mengalir sungai yg banyak ditumbuhi pohon kaktus dan bunga beraneka warna yg menarik dan kami jarang menjumpainya. Beberapa anggota kawanan mengambil beberapa bunga-bunga utk dibawa pulang. Dibawah pelataran candi ada satu rumah yg juga berfugsi sebagai warung makan/minum. Sebelum pulang kawanan mampir sejenak utk sekedar minum dan makan makanan ringan utk menghangatkan badan. Setelah dirasa cukup, kawanan bersepakat utk pulang. Waktu pada saat itu menunjukkan pukul setengah lima sore. Eko mulai menstarter mobilnya, namun entah kenapa tidak mau hidup. Akhir kawanan sepakat utk mendorongnya. Keluar dari pelataran candi merupakan jalanan yg menurun panjang dan diujung bawah sana merupakan belokan. Dibawah belokan tersebut adalah jurang dengan kedalaman kurang lebih 50 meter. Kondisi tersebut memudahkan mobil dihidupkan dengan cara didorong. Setelah mobil hidup, kawanan yg berjumlah 14 orang tersebut satu persatu memasuki mobil.

Mobil mulai berjalan menuruni bukit, kurang lebih 100 meter dari pelataran terdengar suara – klek – sejak saat itu mobil tidak dapat dikendalikan, dengan cepat mobil meluncur. Suasana didalam mobil menjadi panic. Suara bersahut-sahutan entah apa yg diucapkan oleh kawanan tersebut. Sebagian dari kawanan sudah pasrah, nyawa mereka terancam! Eko dengan sekuat tenaga coba mengendalikan colt station tua tsb. Namun apa daya, jalanan yg curam serta mobil penuh dengan penumpang membuatnya tak berdaya. Diujung jalan terlihat jalan membelok kekiri, eko membanting stir ke kiri mengkuti tikungan jalan. Namun saking kencangnya, mobil mulai oleng ke kanan dan tak dapat dikendalikan. Sementara itu disebelah kanan jalan adalah jurang sedalam kurang lebih 50 meter! Kawan2 ada yg berteriak Allahu Akbar! Mobil menghajar bahu jalan dan meluncur deras terguling-guling masuk jurang. Sy yg duduk dikursi depan bertiga dengan Kunto dan Eko menjerit dan pasrah sambil memejamkan mata. Mungkin sampai disini jalan hidupku. Entah kenapa, serasa badanku terlempar keluar mobil dan mendarat disebuah rerumputan. Tanganku bergantung dengan pepohonan dan masih sempat ku lihat ke bawah, mobil berguling-guling layaknya bola bowling menerjang pin dan akhirnya berhenti setelah tertahan oleh pohon. Kejadian tersebut berlangsung sangat cepat. Suasana hening sesaat. Kemudian ku mulai menuruni jurang utk melihat kondisi kawan-kawan. Ku lihat Kiyo, hendro dan sakti berkumpul. kemudian kami melihat kondisi teman2 yg lain. Alhamdulillah! Semua selamat. Meski beberapa dari mereka mengalami luka fisik yg sangat hebat. Hendro kaki patah, Eko rahangnya patah, Sakti telinganya berdarah, Kunto, Kio, Fajar, darwoto, rumboko, Edi, Puguh, Surono, dan aku sendiri tak luput dari celaka. Dari kepalaku mengucur deras darah. Setelah berkumpul semua, kemudian salah seorang diantara kami memimpin utk berdoa. Tak berapa lama, penduduk setempat mulai berdatangan memberikan pertolongan. Kami semua diangkut menggunakan mobil pick up dibawa ke rsud kr anyar. Sepanjang perjalanan menuju RS tak banyak suara keluar dari mulut kami. Rasa syukur terhindar dari kematian membuat kami lemas. Suatu pengalaman tak terlupakan sepanjang hidup kami.

Kini setelah 20 tahun sejak kejadian tsb, kami mulai menjalin komunikasi lagi. Berkat kemajuan teknologi internet. Dan melihat rata-rata dari mereka sudah menemukan kehidupannya masing-masing. Gud lak mai brader! Kalian semua tak akan pernah lupa dari ingatanku.

Adios!

13 Juli 2009 - Posted by | Uncategorized

5 Komentar »

  1. Saya sdh lama sekali tidak nangis…..baca ini, mataku berkaca2…….

    Komentar oleh Budhi Sardjono | 2 Agustus 2009

  2. pengalaman yg tak terlupakan ya Bud,

    Komentar oleh agussr | 4 Agustus 2009

  3. Waktu nonton Godbless, kita mblayang dulu ke Klewer khan? Trus abis nonton kita nginep di rumah Fajar Krebet. Bikin nasi goreng. Karena laper, nasi gorengnya krasa nikmat banget………….Waktu itu aku mbonceng Fajar. Kamu sama kunto kayaknya.

    Komentar oleh Budhi Sardjono | 6 Agustus 2009

  4. aha.. masih inget juga ya bud detil-detil kejadian 20 th yg lalu. ditulis dong Bud. entar kita kumpulkan jadi satu buku. ok kah?

    Komentar oleh agussr | 6 Agustus 2009

  5. pdps!

    Komentar oleh Fitri | 26 September 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: