ASRI TALK

Njajah Deso Milangkori

Malaysia, Sahabat atau Tukang Embat Sih?


Untuk kesekian kalinya Malaysia, negeri tetangga tersebut membuat ulah. setelah mengklaim bahwa reog, rendang, batik menjadi budaya mereka kini tari pendet menjadi salah satu budaya yg digunakan untuk mempromosikan budaya negera tersebut.

reog

Reog Ponorogo

.<!–more–>

sebagai sebuah negara yg mengaku serumpun dengan Indonesia, tindakan Malaysia ini sudah cukup keterlaluan. sikap provokatif yg ditunjukkan sejak akhir tahun 2008 dengan melakukan patroli laut di blok Ambalat dan diklaim sebagai bagian dari wilayah Malaysia merupakan tindakan berani kalau tidak boleh disebut menantang ‘saudara tua’nya. rupa-rupanya setelah berhasil menguasai P Sipadan dan Ligitan tidak membuat mereka puas dan ingin menguasai wilayah lain NKRI.

angklung pendet

 

Tidak hanya ingin menguasai pulau, rupanya negara tersebut juga ingin sekaligus menguasai budayanya. Entah karena malysia miskin akan budaya atau karena kebanyakan rakyat melayu-nya berasal dari Indonesia sehingga mereka merasa berhak mengakui budayanya. Reog, angklung, tari pendet yg sudah turun temurun dikenal sebagai budaya Indonesia mereka jadikan alat untuk menarik wisatawan untuk berkunjung ke negaranya.

Bahkan kabar terbaru mengagetkan kita semua, Perusahaan Rekaman Lokananta bermaksud melakukan somasi ke pemerintah Malaysia karena lagu Kebangsaan Malaysia mencontek habis nada dan irama Lagu Terang Boelan yg sempat ngetop di tahun 45 hanya berbeda liriknya saja. Lagi-lagi hal ini membuktikan bahwa Malaysia merupakan negara miskin kreatifitas pun untuk lagu kebangsaan harus contek milik orang lain.

malingsiaOlok-olok netter Indonesia terhadap Malaysia

Entah karena tidak dapat mengelak dari tuduhan tukang ambil milik orang lain, pemerintah Malaysia tidak banyak berkomentar tentang hal ini. mereka berdalih tindakan tersebut adalah tindakan pihak ke tiga dan pemerintah malaysia mengaku tidak tahu menahu tentang penggunaan tari pendet untuk promosi kunjungan wisata ke negaranya. alih-alih minta ma’af dengan asal klaimnya bahkan muncul pelecehan baru. di sebuah website forum di internet memuat plesetan lagu kebangsaan Indonesia Raya. meski belum diketahui  pelakunya tindakan tersebut telah melecehkan dan merendahkan martabat bangsa Indonesia. Dari kalimat syair Indonesia Raya yg plesetkan dengan menggunakan bahasa Malaysia.

Sikap Pemerintah Indonesia

sejauh ini sikap pemerintah Indonesia terlihat masih sangat hati-hati. Tidak diketahui dengan jelas penyebabnya. apakah mungkin karena 2 juta lebih penduduk Indonesia mengais rezeki di negeri tersebut sebagai TKI sehingga pemerintah terkesan membiarkan pelecehan demi pelecehan dilakukan oleh Malaysia. Coba lihat saat kapal-kapal perang Malaysia melakukan patroli di kawasan blok Ambalat yg jelas-jelas milik RI, pemerintah kita hanya memberikan perinagatan dan permintaan ma’af dari Malaysia. meskipun kejadi pelanggaran tapal batas tersebut sering dilakukan. tidak ada tembakan peringatan atau tembakan beneran meski kapal perang mereka nyaris menabrak kapal perang RI seperti yang dilakukan kepada penjahat/pencopet/perampok yg melarikan diri setelah diberi tembakan peringatan.

Permadi, dalam sebuah wawancara dengan sebuah stasiun TV swasta menyebut sikap pemerintah saat ini lebih kepada pemikiran pragmatis dan sektoral tidak ideologis seperti yg ditunjukan oleh mendiang Presiden Soekarno. Dia berpendapat siapapun baik individu atau pemerintah yg jelas-jelas melakukan pelecehan terhadap simbol-simbol negara harus di tindak dengan keras karena itu berarti pernyataan perang terhadap RI.

Harus diakui memang tak sedikit rakyat kita yg mengais rezeki di negeri jiran tersebut. namun tidak berarti negeri tersebut boleh berlaku semena-mena kepada kita. Keberadaan TKI di Malaysia telah membantu pertumbuhan perekonomian negara tersebut. Orang Malaysia yg gengsi bekerja di sektor-sektor kasar seperti perkebunan, pembangunan gedung-gedung dan sektor rumah tangga mestinya berterima kasih dengan keberadaan TKI. Alih-alih berterima kasih, perlakuan majikan terhadap para TKI kadangkala diluar batas kemanusiaan. tak jarang TKI tak dibayar gajinya, disiksa, di perkosa bahkan pulang tanpa nyawa. seperti yg dialami oleh Nirmala Bonat, Ceriyati, Siti Hajar, Siti Hernawati, dan masih banyak yg lain. Bahkan kini video kekerasan aparat Malaysia terhadap seorang laki-laki yg diduga TKI beredar di media massa.

Setelah sekian banyak perlakuan kasar, dan pelecehan dilakukan oleh Malaysia baik secara institusi maupun individu masihkah pemerintah Indonesia melakukan langkah-langkah yg sama dan diplomatis tanpa isi? Tidakah kaum elit dipemerintahan mau belajar dengan the founding father kita mendiang Presiden Soekarno yg secara tegas menyatakan perang terhadap Malaysia. Bukankah harga diri bangsa diatas segala-galanya melebihi hitung-hitungan untung rugi? Nasionalisme dan patriotisme bangsa sedang di uji. Di beberapa daerah rakyat telah banyak menggelar aksi untuk mengecam perilaku Malaysia tersebut. Rakyat menuntut agar pemerintah lebih tegas mengambil sikap kalau perlu putuskan hubungan diplomatik dengan malaysia. Soal ancaman deportasi TKI ke Indonesia adalah sebuah konsekuensi. Negara yg berdaulat harus mampu melindungi martabat, rakyat dan kehormatannya. Kali ini pemerintah RI dituntut untuk menunjukkannya kepada rakyat. sudah lama bangsa ini merindukan pemimpin yg mampu menjaga harga diri bangsa dan dibanggakan oleh rakyatnya. Sekarang atau tidak sama sekali…

30 Agustus 2009

30 Agustus 2009 - Posted by | gerakan sosial | , , , , , , , , , , ,

12 Komentar »

  1. emang kalau perang indonesia bisa menang ? gak yakin

    Komentar oleh geblek | 30 Agustus 2009

  2. sing sabar Pa, nanti juga kita menang wkwkwk

    Komentar oleh andif | 30 Agustus 2009

  3. menang di injury time yo mang..

    Komentar oleh agussr | 31 Agustus 2009

  4. Ayo serbu…

    Komentar oleh Pencerah | 31 Agustus 2009

  5. jok, kenapa ngga yakin menang?

    Komentar oleh agussr | 31 Agustus 2009

  6. dasar malaysialan… huh

    Komentar oleh Reza Fauzi | 1 September 2009

  7. dulu sahabat sekarang tukang embat.
    saya berharap perang mas. biar dirasio kalah tapi kehormatan lebih penting.

    tapi saya lebih suka dengan cara mempermalukan.. entah gmn caranya

    Komentar oleh novi cuk lanang | 1 September 2009

  8. Apa mereka masih punya ke-malu-an? selama ini ngga nampak tuh..

    Komentar oleh agussr | 2 September 2009

  9. bikin gemas yo mas, koq bisa ya ‘bos’ kita anteng-anteng saja?

    Komentar oleh agussr | 2 September 2009

  10. hehehe, maafin enggak yah…. khan sekarang lagi iedul fitri… hehehe…. oiya salam kenal mas!

    Komentar oleh gadgetboi | 21 September 2009

  11. salam kenal juga. thanks telah berkunjung ke sini

    Komentar oleh agussr | 1 November 2009

  12. kalau saya pribadi cie bangsa yang tak tau berterimakasih dan tak setia.
    dulu belajar dari indonesia, giliran Indonesia terpuruk mereka menutup mata

    Komentar oleh alfarolamablawa | 25 Desember 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: