ASRI TALK

Njajah Deso Milangkori

metamorfosa sebuah negeri


lagi, hari ini mataku di suguhi tontonan kerusuhan, dan amuk massa di tayangan televisi. dalam hatiku, apakah yang terjadi di negeriku ini? apakah sudah tidak ada lagi masalah yang dapat diselesaikan melalui musyawarah? apakah setiap masalah harus di selesaikan melalui perang batu dan semprotan gas air mata bahkan tembakan senjata? apakah negeri ini sudah bermetamorfosa dari negeri ramah tamah menjadi negeri yg ganas penuh keributan?

semua pertanyaan di atas tentu saja tidak gampang mencari jawabnya. negeri dengan penduduk lebih dari 250 juta ini makin hari makin berat dan gelap dan tersesat dalam perjalanannnya menempuh waktu. mari tengok berita media massa, keberhasilan para pelajar indonesia meraih medali emas di beberapa kejuaraan olimpiade matematika bahkan mengalahkan negara2 eropa yg konon majunya 150 tahun di depan kita, tenggelam di telan berita pejabat negara yg sedang terjerat korupsi. berita tawuran pelajar, mahasiswa, korupsi pejabat dan aksi satpol pp lebih menarik untuk menjadi headline dibanding berita-berita yg lain.

praktis, berita-berita yg disuguhkan media massa telah membuat seolah-olah wajah negeri ini menjadi negara yg buas penuh keributan dengan korupsi nya yg akut. orang asing tidak perlu banyak membaca utk mengetahui indonesia, cukup nonton berita di tv dan koran indonesia  dan akan tahu seperti apa negeri ini.

pertanyaanya – apakah salah jika media massa memberitakan keributan dan kerusuhan yg nyaris terjadi tiap hari di negeri ini? setali tiga uang dengan media massa, sebagian besar rakyat negeri ini ini juga lebih suka dengan berita-berita kriminal daripada berita-berita lain yg lebih berat untuk di cerna. jadi klop sudah! dimana sebenarnya posisi pemerintah dalam hal ini?

ada yg berpendapat, terbentuknya watak masyarakat yg demikian tidak dapat dilepaskan dari kesulitan yg mereka (baca : masyarakat) hadapi dalam hidupnya sehari-hari. para pedagang makin sulit  jualan, lulusan PT makin sulit mencari kerja, para petani makin sulit untuk bertani karena pupuk makin mahal, para buruh makin sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari karena upah makin murah dan seterusnya? sementara masyarakat melihat para elit birokrat dan politik asyik dengan mainannnya sendiri. uang pajak milyaran rupiah di permainkan layak duit sendiri, uang negara trilyunan menguap entah kemana, sementara elit partai politik sibuk berebut kekuasaan.

jika demikian, bukankah masing-masing golongang/kelas dalam masyarakat sibuk dengan urusannya masing-masing. dimana peran pemimpin dalam hal ini? seyogyanya ada langkah revolusioner yg dapat dilakukan oleh presiden. misalnya melakukan safari dan pertemuan umum di daerah-daerah dan sampaikan pidato yg begini

“ wahai rakyatku, mulai hari ini – negara akan menanggung semua biaya pengobatan untuk rakyat-rakyat miskin, semua anak dapat sekolah gratis hingga SMA, bagi pekerja/buruh yg ter-PHK negara akan memberikan subsidi sebesar 3 kali upah minimum di daerahnya selama 6 bulan, para pejabat negara hanya akan mendapatkan gaji pokok saja tanpa tunjangan, fasilitas mobil dan rumah dinas utk presiden/para mentri, anggota DPR/DPRD/DPD di cabut dan digunakan seluas-luasnya untuk kepentingan rakyat, pejabat yg terbukti korupsi di hukum matiperusahaan-perusahaan tambang akan dikuasai sepenuhnya oleh negara, bagi perusahaan asing harus memberikan bagi hasil dengan perbandingan 90:10 utk RI atau keluar dari negara ini, ”

kira-kira apa yg akan terjadi?

23 April 2010 - Posted by | Uncategorized | , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: